"Kelak kan ku tuliskan sesuatu dari pena yang tak bertinta ini".

Seakan syahdu memainkan angkasa tak berpura, hidup dalam kepura - puraan mencari kepastian yang semu terdiam, ingin ku tuliskan sebuah skenario permainan yang ku jalani sendiri layaknya seorang Gamer tanpa cheat tanpa trik khusus, kemanakah tulisan ini akan berakhir, hanya sekian dari yang kesekian sastra tak lagi menjadi sebuah keindahan, akankah Indonesia ini kehilangan seninya sendiri. ?
Permainan kebudayaan yang kian berimbas terhadap pola berfikir adik - adik dan anak - anak kita kelak yang sekarang beranjak dewasa menjadi seorang yang di manjakan teknologi. masih adakah cikal bakal pemimpin di negeri ini yang berjalan dengan senyum penuh harapan memakai seragam sekolah mereka.
Hari ini (12 Juni 2013) kulihat keterpurukan cikal bakal bangsa ku yang berjalan diselimuti teknologi tanpa sadar sejauh mana teknologi itu akan merusaknya.
Aku hanya seorang mahasiswa  yang juga membutuhkan teknologi untuk keperluan tugas dan script - script layaknya cacing menyampah, dan saya salah satu "KORBAN" dalam konteks ini. Jujur kemunafikan ada di diri ini, tulisan ini yang seakan menentang teknologi masa kini. tapi maaf bukan Teknologi yang menjadi musuh utama dalam tulisan ini. sekali lagi bukan teknologi. musuh yang sebenarnya adalah Kita, aku dan kalian. kita menyampahkan semua perkataan Sok Bijak baik dari blogger seperti ini maupun jejaring sosial.
dan bahkan ketika pena bertinta di tangan hanya menjadi pajangan diantara 2 jari menjepit tanpa tahu memfungsikannya. Indonesia ku rindu orang yang berkeringat menghabiskan tinta pena-nya menuliskan semua Kekuatan, dan Kelemahan. bertindak irrasional dan merasionalkannya.
Keloyalitasanku terhadap negeri ini juga masih menjadi pertanyaan yang memusingkan. apakah aku sanggup..? apakah aku bisa ? dan apakah aku benar - benar kuat memikirkan kalimat "Kelak ku kan tuliskan sesuatu dari pena yang tak bertinta ini". sangat tidak logis. betul sangat irrasional.

Lantas ku lihat seorang anak berjalan dengan seragam sekolah Putih Merah memegang sebuah pensil.
kembali ku bertanya "Mungkinkah anak itu menulis dengan pensil yang kehabisan karbon", aah mungkin jika habis dia kembali merengek kepada orang didekatnya untuk dibelikan sebuah pensil. Dalam konteks ini anak - anak kebanyakan tidak lagi bertindak sesuai nalurinya inilah hasil dari ke-instan-an yang sangat memprihatinkan.
Kulihat lagi beberapa orang berjalan, berlari, tertawa, menangis, menawar, berdebat, teriak, membaca, dan masih saja aku bertanya, apakah dia sanggup.? kulempar pulpen di tanganku dan duduk menatap sekelilingku, mencoba merasakan dan memposisikan diri sebagai mereka yang ku lihat, dan masih saja aku terjebak dalam kelinglungan.

Lebih dari 15 menit aku terdiam memposisikan diri sebagai mereka, sekarang aku jenuh, dan tertunduk kemudian menertawai kebodohanku berpikir seperti ini, dan berkata "Tidak akan ada Manusia yang akan sadar",

ku ambil pulpen tanpa pena itu yang sudah membentuk garis pada pasir yang telah dipikul beramai - ramai oleh gerombolan semut. aku tertawa sehina itu kah manusia dikalahkan oleh semut yang mampu menulis walau hanya segaris dengan pena tanpa tinta.





dan sekarang aku yakin Indonesia benar - benar membuthkan seseorang yang mampu berpikir irrasional, tidak dengan pemikiran yang dimanjakan teknologi. [j]

***

12 Juni 2013 (Pena Tak Bertinta)

Posted on

12 Jun 2013